Roma Hancur di Kandang! Dua Wajah Memalukan Bikin Bologna Singkirkan Mereka dari Liga Europa
Kekecewaan Mendalam dari Gasperini
Pelatih AS Roma, Gian Piero Gasperini, tak menutupi kekecewaannya setelah tim asuhannya tersingkir secara dramatis dari Liga Europa usai kalah 3-4 dari Bologna. Ia menilai timnya menunjukkan dua wajah yang sangat kontras dalam satu pertandingan—antara performa impresif dan kesalahan fatal.
“Ini jelas pertandingan yang menarik, tapi tentu kami meninggalkannya dengan penyesalan besar, karena malam ini kami menunjukkan versi terbaik dan terburuk kami,” ujar Gasperini kepada Sky Sport Italia.
Roma Terus Berada dalam Tekanan
Roma sebenarnya tidak pernah benar-benar berada di atas angin sepanjang laga. Setelah bermain imbang 1-1 di leg pertama, mereka kembali tertinggal dan harus berjuang keras mengejar ketertinggalan agregat.
Bahkan dalam pertandingan ini, Roma sempat tertinggal 1-3. Situasi tersebut membuat mereka terus berada dalam tekanan, baik dari permainan Bologna yang efektif maupun ekspektasi tinggi dari para pendukung di Stadion Olimpico.
Kebangkitan Dramatis yang Memicu Harapan
Meski berada dalam kondisi sulit, Roma menunjukkan semangat juang luar biasa. Gol dari Evan Ndicka, Donyell Malen, dan Lorenzo Pellegrini berhasil membawa mereka bangkit dan memaksakan pertandingan hingga babak perpanjangan waktu.
Momentum sempat terasa berpihak kepada Roma. Dukungan suporter semakin membakar semangat tim, dan harapan untuk membalikkan keadaan pun terbuka lebar.
Gol Penentu Cambiaghi Mengakhiri Perlawanan
Namun, harapan tersebut akhirnya pupus di babak tambahan waktu. Nicolo Cambiaghi menjadi pahlawan Bologna setelah mencetak gol dari sudut sempit yang sulit diantisipasi.
Gol tersebut memastikan kemenangan 4-3 untuk Bologna di laga ini, sekaligus mengunci agregat 5-4. Roma pun harus menerima kenyataan pahit tersingkir di kandang sendiri.
Dua Wajah Roma: Tajam di Depan, Rapuh di Belakang
Gasperini menilai performa terbaik Roma sebenarnya terlihat hampir sepanjang pertandingan. Namun, kelemahan di lini belakang menjadi faktor penentu kegagalan mereka.
“Yang terbaik terlihat hampir di sepanjang laga, yang terburuk ada pada gol-gol yang kami kebobolan. Itu membuat kami terus mengejar keunggulan lawan,” jelasnya.
Kesalahan di lini pertahanan membuat Bologna sempat unggul 3-1. Salah satu momen krusial terjadi pada gol pertama, ketika Gianluca Mancini terjatuh setelah tarik-menarik dengan Jonathan Rowe.
“Mancini tetap terjatuh setelah bajunya ditarik, sehingga Rowe bebas bergerak ke depan. Situasinya memang tidak biasa, tapi sayangnya kami terlalu naif,” tambah Gasperini.
Tren Buruk yang Terus Berlanjut
Kekalahan ini memperpanjang catatan buruk Roma yang kini tanpa kemenangan dalam lima pertandingan terakhir di semua kompetisi. Hal ini menjadi sinyal bahaya, terutama di fase krusial musim.
Gasperini mengakui bahwa tekanan dan kelelahan mulai memengaruhi performa timnya. “Ketika Anda sampai di tahap seperti ini, level permainan meningkat, tekanan juga bertambah, dan kelelahan mulai terasa,” ujarnya.
Meski demikian, ia tetap mengapresiasi semangat juang tim yang mampu bangkit dari ketertinggalan 1-3. “Kami sempat merasa momentum ada di pihak kami, tapi kesalahan kecil bisa membuat Anda kalah. Itu jelas,” tegasnya.
Keterbatasan Opsi Pemain Jadi Kendala
Selain masalah performa, Roma juga menghadapi keterbatasan pemain. Manu Kone harus keluar lebih awal karena cedera, sementara beberapa pemain penting seperti Paulo Dybala, Matias Soule, Artem Dovbyk, dan Evan Ferguson absen.
Kondisi ini membuat opsi di lini depan menjadi sangat terbatas. Gasperini bahkan hanya melakukan dua pergantian di waktu normal dan total empat hingga babak tambahan.
“Di extra time, kelelahan terasa, tapi kami tidak punya banyak pilihan. Bologna justru memasukkan tiga penyerang segar, dan itu membuat perbedaan besar,” jelasnya.
Mimpi yang Belum Terwujud
Gasperini, yang sebelumnya sukses bersama Atalanta di Liga Europa, mengaku memiliki ambisi besar untuk menerapkan pola serangan serupa di Roma. Namun, kondisi skuad membuat rencana tersebut belum bisa terwujud.
“Saya datang ke Roma dengan mimpi mengulang pola menyerang tertentu, tapi karena cedera dan keterbatasan pemain, kami belum bisa melakukannya,” ungkapnya.
Meski begitu, ia tetap menilai performa tim dalam beberapa laga terakhir cukup positif, termasuk saat menghadapi Como dan Bologna.
Harapan dari Pemain Muda
Salah satu sisi positif dari laga ini adalah penampilan pemain muda Robinio Vaz. Masuk sebagai pemain pengganti, ia mampu memberikan energi baru dan bahkan memenangkan penalti untuk timnya.
“Dia masih sangat muda dan merupakan investasi besar. Dia punya energi dan kekuatan, tapi tentu butuh waktu untuk berkembang,” kata Gasperini.
Kekalahan ini menjadi gambaran nyata tentang masalah utama Roma—inkonsistensi. Mereka mampu tampil luar biasa dalam menyerang, tetapi juga sangat rapuh dalam bertahan.
Dua wajah yang ditunjukkan dalam satu pertandingan menjadi penyebab utama tersingkirnya mereka dari Liga Europa. Jika ingin kembali bersaing di level tertinggi, Roma harus segera memperbaiki kesalahan mendasar, terutama di lini pertahanan.
Bagi Gasperini dan timnya, ini bukan hanya kekalahan, tetapi juga pelajaran penting untuk masa depan.
